Sekolah dan Kuliah…bab I

January 22nd, 2009 by haryo-institute

Singkat kata singkat cerita, dalam obrolan yang mengambil tepat di sudut warung kopi. Ada seorang kawan yang menyanyikan lagu plesetan dari “Naik-naik ke puncak gunung”…begini lagunya…”Naik-naik, SPP naik…tinggi-tinggi sekali, kiri-kanan…kulihat saja banyak rakyat sengsara…hahaha”. Yap, memang begitulah lagu yang cukup menggambarkan keadaan yang menimpa semua institusi berlabelkan pendidikan. Pembicaraan malam itu sangat menarik, hampir semuanya menyalahkan pemerintah yang dianggap “lepas tangan dalam hal pembiayaan sektor pendidikan. “Coba, lihat negara Kuba dan Korea Utara meskipun dicap miskin. Disana sekolah gratis, gak kayak di Indonesia”, ujar salah seorang kawan yang kebetulan berbaju Che Guevara tersebut. “Benar sih, tapi mau gimana lagi. Sebab anggaran kita habis untuk ngebayarin hutang”, tambah kawan yang lain. “Mungkin dengan cara menaikan biaya SPP, fasilitas pendidikan terpenuhi, hingga kualitasnya bisa diperbaiki. “. “Lha, apakah kualitas diukur dari fasilitas serba wah, apalagi SPP yang naik.”…..Jleggggg…perdebatan itu menemui ekornya tatkala pernyataan tersebut dilontarkan.
Tidaklah mengherankan, jika seseorang menyandang status mahasiswa. Segenap rasa bangga akan memayungi dirinya, disaat memasuki gerbang kampus, mengikuti perkuliahan, sampai menyandang gelar yang paling diidamkannya. Bagaimana tidak ? ibarat sebuah permainan video game setelah melalui level dari Playgroup, TK, SD, SMP, SMA, (atau sederajat), kita akan menyusun Stairway to Heaven di level Perguruan Tinggi. Wooowww !!! level terakhir harus dilewati sebelum mencapai dunia kerja yang persis Heaven/Surga (katanya). Baik kembali ke Perguruan Tinggi, di level ini terlihat banyak perubahan, mulai dari pakaian yang mayoritas dibebaskan, sampai tata cara belajar yang konon dibebaskan pula. Dan kita merasakan iklim yang sekali lagi konon katanya dibebaskan. Tapi coba, simak dulu salah satu testimonial dari kawanku yang menyatakan dunia kuliah tak ubahnya mesin dan berjalan lurus-lurus saja. “Saya menghabiskan 7 semester, atau dalam hitungan kasar setara dengan 42 bulan, 84 minggu, 1260 hari, 30240 jam, 1814400 menit, 108864000 detik untuk menjalani kehidupan kuliah di salah satu fakultas. Disanapun, kita akan mudah tebak seperti apa kegiatannya mulai dari duduk manis di depan radio bernama dosen, mengerjakan tugas dengan baik dan benar. Sambil menanti kata-kata yang paling buat sejuk hati ini “Ok, kita lanjutkan minggu depan, perkuliahan hari ini diakhiri”. Dan datanglah saat yang mendebarkan, saat melihat nilai yang tertera di KHS (Kartu Hasil Studi) apalagi suatu hari nanti mengimajinasikan akan datangnya embel-embel gelar di belakang namanya. Sebelum nantinya akan memasuki Next Battle bernama Dunia Kerja. Alamak…perjalanan yang cukup melelahkan y ??? Kalo saya pinjam, kata-kata dari Paulo Freire pendidikan masa kini tak jauh beda dengan ritualisasi yang sifatnya hanya berkutat dengan simbol-simbol belaka sehingga kehilangan makna sebenarnya. Benarkah sampai segitunya ???
Bandingkan dengan waktu sekolah dulu, pada hakikatnya hampir sama sie. Mungkin pembedaannya pada kurikulum yang lebih ketat, jadwal terstruktur dengan rapih, ataupun kalau dalam bahasa kerennya waktu sekolah masih dididik ala anak-anak sementara kalau kuliah sudah dewasa dong…!? Saat menempuh sekolah, aturan yang diterapkan juga ketat…”Tak boleh ini itu dan masih banyak lagi…lha, waktu kuliah sudah bebas dong…” Mungkin itu pembedaannya. Dan alkisah, sekolah berasal dari bahasa Yunani yang artinya waktu luang. Jadi pada zaman dahulu kala, orang-orang Yunani mmaknai sekolah adalah sebuah sarana untuk mengisi waktu luang (bedakan dengan rutinitas) dengan cara berdialog, share, ataupun ngobrol-ngobrol santai yang bertemakan apa saja mulai dari hal yang remeh temeh sampai berbicara hakikat kehidupan. Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak pemikir sekaliber Socrates, Aristoteles, Plato dan masih banyak lagi. Rasanya masuk akal jika pemikir tersebut dapat lahir dan Yunani tak pernah kehabisan stok,,,
Nah, kita kembali meloncat ke 2008. Dunia pendidikan kita (entahlah apa itu penyebutannya kuliah atau sekolah) seolah-olah mengalami penyeragaman. Apalagi setelah UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) disahkan dan berlaku dari TK sampai Perguruan Tinggi. Yang baru kelihatan adalah kenaikan SPP, pembangunan gedung-gedung fisik demi peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan. Belum lagi, dengan suasana di dalam kelas. Baik saya ajukan semacam gambaran aja, kira-kira pemikir semacam Socrates, Aristoteles, Plato, dsb bisa lahir ga dalam suasana pendidikan yang mana ditandai dengan betapa patuhnya peserta didik kepada pendidik, dan menganggap pendidik bagaikan dewa maha tahu, apalagi dikejar target untuk segera menyelesaikan studi akibat membayar SPP terlalu mahal atau bahkan tidak menikmati bangku sama sekali? Baiklah, kira-kira ada yang janggal ga saat pendidikan dinilai dari bercokolnya gedung-gedung fisik yang ber-AC, akreditasi yang mantap, lengkapnya fasilitas, dan gengsi yang berbunga-bunga menjadi lulusan terbaik dengan nilai sekian…..bersambung

-Haryo,,,manusia biasa yang mencoba lebih biasa lagi.

Pendidikan

December 29th, 2008 by haryo-institute

Dalam obrolan yang mengambil tempat di sebuah warung kopi, seorang kawan bertanya bahwa apa sie intinya dari sebuah kuliah ? setelah berentet pertanyaan seputar dunia tersebut terlontar satu demi satu menghiasi obrolan dengan durasi lebih dari 90 menit hampir sama dengan dua babak pertandingan sepakbola. Sontak kawan yang lain menjawab bahwa inti dari kuliah adalah datang, duduk manis, menjadi pendengar yang baik di depan radio bernama dosen, menerima tugas, sambil menanti kata-kata yang paling ditunggu yaitu “Ok, kita lanjutkan lagi minggu depan”, kemudian disaat ujian memfotokopi banyak catatan, ditambah harap-harap cemas akan tertera angka berapa di Indeks Prestasiku nanti,kemudian datanglah saat yang paling ditunggu yaitu ditempeli gelar sarjana di belakang namanya.
Waaaww,,,penjelasan yang singkat, padat dan jelas sekaligus mewakili perjalanan panjang di kampus hampir selama 3,5 tahun atau setara dengan 7 semester, 42 bulan,168 minggu, 1260 hari dalam hitungan kasar. Hmm…ternyata seperti itu jalan dari titik 0 masuk ke bangku kuliah sampai obrolan ini dilangsungkan. Jika memang demikian, apakah hanya kami di warung kopi saja sebagai pihak yang merasakan, ataukah hampir semua mahasiswa ikut merasakan termasuk 8627 mahasiswa baru, meskipun baru 6 bulan mencicipi bangku kuliah ?????
Alkisah, ketika saya membolak-balik buku yang bercerita tentang pendidikan, ada sedikit yang ganjil saat mengamati asal muasal kata “sekolah”. Ternyata sekolah berasal dari bahasa Yunaia yaitu scholae, yang berarti “waktu luang”. Dengan demikian, orang zaman dahulu kala disana,memaknai sekolah/scholae sebagai sarana untuk mengisi waktu luang…(beda lho dengan rutinitas) disela-sela kesibukan mereka, pun demikian saat itu diisi dengan berdialog, sekedar sharing masalah kehidupan ataupun hakikat kehidupan. Maka dari itu tak mengherankan, jika pemikir yang sampai sekarang diakui dunia model Plato, Aristoteles, Socrates, ataupun banyak filsuf lainnya lahir dari pembelajaran dengan tipe ini. Mungkin saja ??? coba saja, dalam metode dialog biasa, share, ataupun apalah penyebutannya,kira-kira kawan merasa ada tekanan, tidak? Ataupun merasa gugup saat diberikan pertanyaan sambil bingung jangan-jangan berpengaruh kepada nilai?
Ok, sekarang kita lari lagi ke tahun 2008. Kira-kira kawan merasa ada yang ganjil dengan sistem pendidikan kita atau paling dekat dengan perkuliahan? Begini saja, mungkin kawan bisa membedakan antara yang “bodoh” dan “pintar” dari selembar kertas bernama Kartu Hasil Studi ataupun menyebut “malas dan “rajin” dari presensi/absensi yang tiap hari bikin hati kalang kabut? Bagaimana, ada yang ganjil…?Baik, saya lanjutkan obrolan dengan kawanku yang satu ini,sambil menyeruput kopi, dan menghisap dalam-dalam rokok yang sudah habis 4 batang untuk mengepuli pembicaraan kami malam itu. Thanx….

homo economicus

December 18th, 2008 by haryo-institute

Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh ahli ekonomi ketika ia mengeluarkan sejuta pendapat tentang bagaimana seharusnya manusia mempertahankan hidupnya demi kenyangnya perut mereka ? Sehingga tak mengherankan jika bau makanan yang dihidangkan berbau mesiu dan semakin girang pula untuk membohongi orang lain demi kenyangnya perut ini. Ekonomi adalah salah satu dari sekian banyak alasan bagi manusia untuk berbuat dari hal yang sepele sampai yang rumit. Termasuk pula, terciptanya berbagai pekerjaan/profesi dalam kehidupan manusia. Mulai dari yang hina sampai kelas jenset.
Ekonomi pula yang menyebabkan penyebaran manusia dari satu tempat ke tempat yang lain, demi terpenuhinya kebutuhan akan sumber daya alam yang baru. Termasuk berdirinya beton-beton raksasa yang sudah menyedot habis-habisan kekayaan alam Nusantara. Antara ekonomi dan manusia seperti libido yang tengah terperangkap dalam tubuhnya. Kemudian menjadi perasaan yang akan mengemudikan kendali saraf dan berwujud kelaparan hasrat/kehendak untuk kuasa atas terpenuhinya kebutuhan mereka masing-masing.
Mungkin saja, Karl Marx terkejut saat melihat bahwasanya ekonomi Kapitalis yang dikritik habis-habisan dan diramalkan hancur dengan sendirinya, ternyata bertambah kuat dan merasuki semua sendi kehidupan manusia. Modal tidak mengenal batas negara, ia bergerak seperti angin. Tidak ada yang mampu membatasi. Negarapun tak berdaya dihadapannya. Sekali lagi, manusia harus berbicara bahwasanya hanya perut yang mampu membuat mereka berfikir secara rasional. Manusia memiliki watak homo economicus. Memiliki kuasa/hasrat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang cenderung akan terpetakan dalam masalah pangan, sumber daya alam, dan lebih jelas lagi uang. Uang adalah “Dewa Dunia” begitu, kata Wolfgang Goethe, seorang penyair dari Jerman.
Begitupun, hampir sama saat melihat kemakmuran negara-bangsa hanya diukur lewat angka statistik, jumlah uang yang beredar, dan berapa besar investasi yang masuk. Seolah-olah, semuanya sudah terdikte bahwa sekali lagi ekonomi adalah faktor penentu dari demokrasi, kemakmuran, dan keadilan. Noam Chomsky pernah berpendapat kalaupun negara Dunia Ketiga dipaksa untuk menerapkan demokrasi, itu hanyalah akal-akalan dari negara maju untuk lebih leluasa menguasai negara-negara miskin sebab demokrasi hanya terdapat dalam kotak suara dan dilakukan 5 tahun sekali. Bukan dalam, pembagian kue pembangunan secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat.
Nalar pun berbicara bahwasanya kekuatan ekonomi adalah energi yang tanpa henti membuat manusia tunggang langgang. Permintaan-penawaran, modal-investasi, laba-rugi, adalah sebuah pengendali utama pola pikir manusia dalam cerita yang hampir persis hukum riba. Pasar memposisikan dirinya sebagai pemain utama dalam setiap aras. Lewat triumvirat IMF, Bank Dunia, WTO, berhasilah megaproyek konformitas pola pikir dan pembunuhan manusia sosial yang mensabdakan bahwa keajaiban ekonomi tak akan terjadi tanpa bantuan modal asing. Pun demikian, dengan mantra pembangunan “trickle down effect” hampir semua negara Dunia Ketiga mengamini para elitnya untuk menikmati hasil kemakmuran secara massal, berjama’ah, dan hanya untuk keluarganya tanpa harus repot mengucurkannya ke lapisan bawah.
Apakah yang terjadi dengan dunia ini ? Bisakah kita tidak mengatakan bahwasanya yang menggerakan dunia ini adalah ekonomi, termasuk roda nasib juga digerakan oleh ekonomi ? Barangkali, Adam Smith lupa berkata jika melepaskan kegiatan ekonomi dengan negara apalagi kehidupan sosial sama saja dengan “menghutankan” yang memicu persaingan antara kelompok yang ada. Lho, bukankah itu bagus ? Ya, tapi bisakah dikatakan bagus jika ternyata persaingan tersebut membelah masyarakat ke dalam “kelas berpunya” dan “tidak berpunya” ?. Seperti itukah, gambaran sebuah masyarakat ke depan ? Kelaparan dan kemiskinan dimana-mana sementara yang lain menikmati kemewahan secara berlimpah. Tak ada teori ekonomi manapun yang menyebutkan bahwa ketika ada orang yang lapar maka suatu daerah/kawasan disebut sejahtera.
Memang itulah realita yang sudah diciptakan dari makhluk yang berlabel homo economicus. Kebahagiaan secara kasat mata tereduksi dalam hal yang bersifat materill, melalui kuasa atas makhluk lain untuk membentuk berhala-berhala baru sebagai altar pemujaan modernitas. Peng-global-an dimulai atas relasi-relasi sosial yang sudah bermutasi dalam kalkulasi bursa saham. Injeksi konsumtivitas diamini ramai-ramai sepanjang waktu. Is there any freedom in here ???

pohon beton

November 3rd, 2008 by haryo-institute

Saya tidak tahu persis apa yang diucapkan oleh sebatang pohon saat dirinya merasakan gergaji mesin yang menyentuh tubuhnya. Dan teriakan model apa yang tengah dihujamkan ke telinga anak manusia, saat otak ini mulai berpikir keras untuk menjadikan pohon layaknya pencakar langit. Pun, saya tidak begitu mengerti apa yang diteriakan oleh air saat ia mulai kehilangan jalan, berkeliaran kesana kemari, menabrak sini situ.
Sesaat kita sebagai manusia sering mengeluh bahwa apel yang kita makan ternyata lebih kering dibanding tahun yang lalu. Rindangnya pohon sudah digantikan oleh kerasnya beton yang ternyata tidak sanggup menampung sinar sang surya. Pada akhirnya, apel yang kita makan serasa kering kerontang dimana-mana. Kemampuan manusia dalam menyulap daerah hijau menjadi daerah beton adalah salah satu keajaiban luar biasa dalam peradaban ini.
Nalar semacam inilah yang hobi melabelkan diri dalam kata “modernisasi, developmentalisme, kemajuan, demi pembangunan” dan senang berhadapan dengan mitologi-mitologi lama bertopeng “tradisionalisme, kolot, konservatif,” yang kemudian akan menumbalkan alam pada altar pemujaan manusia modern. Sekali lagi atas nama kemajuan dan pembangunan. Dalam bahasa Herbert Marcuse, meskipun bertujuan untuk modern, dan manusia merasakan kepuasan, tapi sebenarnya ia (manusia) sedang ditindas, yaitu di-mesin-kan oleh ciptaannya sendiri. Dengan kata lain, sedang memasang ranjau atas apa yang sudah dibangun dan dipuja-puja.
Dan ternyata, manusia adalah makhluk paling sempurna diberikan akal, rasa, dan sejuta keahlian lainnya yang membedakan dengan makhluk lain. Sehingga tak jarang, berkacak pinggang dihadapan makhluk lain termasuk pohon sekalipun. Sambil berbicara congkak, “Daerah-daerah ini harus dijadikan lahan bisnis supaya kemajuan ekonomi bisa tercapai, maka dari itu gedung-gedung yang tinggi harus segera dibangun. Ada pohon…Babat !!!. Ada daerah hijau…Sikat !!!. Ada resapan air…Serobot…!!! yang penting menghasilkan uang. Pohon Beton adalah simbolisasi dari majunya peradaban. Mulai menciptakan tuhan (t kecil) di setiap sudut kehidupan. Pohon Beton adalah berhala baru bagi kehidupan manusia. Sembahlah itu, maka uang akan mengalir deras ke sekujur tubuhmu.
Demikian pula, dengan yang terjadi di Universitas Brawijaya. Kisah serupa sering terjadi. Menyemaikan pohon beton adalah pemandangan sehari-hari di kampus yang sudah berdiri sejak tahun 1963. Untuk kemajuan pendidikan sekali lagi kita harus merelakan tertutupnya daerah terbuka hijau untuk kita tempati sehari-hari mengikuti jalannya perkuliahan, bercanda ria dengan teman, dan melihat megahnya Enterpreneur University. Pun, seorang teman pernah berkelakar bahwasanya saat tahun 1990-an adalah dekade terakhir kampus ini untuk menikmati sejuknya udara dingin, suasana iklim khas dataran tinggi Kota Malang dan permainya pemandangan ruang terbuka hijau yang ada di sini.
Namun, pernahkah sejenak membayangkan bahwa saat alam sedang melancarkan protes seberapa besar kekuatan manusia untuk menahannya. Tangan serakah ini tak selincah dulu ketika menebangi pohon. Seraya, menengok ke arah tanah yang mulai longsor, banjir yang mulai meninggi, dan suhu bumi makin panas. Manusia pun dipaksa untuk menodongkan pistol ke arah kepalanya sendiri.

dididik untuk mendidik

August 27th, 2008 by haryo-institute

Pernahkah membayangkan, jika kepala Anda dijejali berbagai macam buku ataupun teori A sampai Z sampai kepala Anda benar-benar berat hingga merasa tak bisa melakukan apapun sebab setiap mm saraf Anda terbelenggu oleh teori yang dipelajari namun tidak menemui titik materialisasi ???.
Imajinasi di atas tentu merefleksikan kondisi dunia pendidikan sekarang yang dilanda absurditas/ketidakjelasan dengan ditandai kebingungan akan dibawa kemanakah anak didik ini nantinya ??? Mendapat title sebagai penghias nama atau dilepas ke hutan rimba pasar kerja ???. Belum lagi, dengan adanya fenomena biaya pendidikan yang semakin meroket…Apalagi menilik hubungan antara anak didik dan pendidik tak ubahnya seperti robot yang bisa dipermainkan dan diperintah sesuka hati.
Bermula dari Kesadaran
Proses dari tidak sadar menjadi sadar tentunya memerlukan pengawalan. Disinilah peran pendidik menjadi titik sentral. Pendidik tidak hanya melakukan transformasi ilmu an sich namun bersikap aktif membangun kesadaran si anak didik. Sadar dalam artian tertentu adalah sikap mengerti keadaan yang ada di sekitarnya ditambah mampu berfikir kritis untuk menguliti habis fenomena palsu di tengah kehidupan. Kesadaran tidak berhenti pada titik itu saja namun mengalami guncangan saat si anak didik dihadapkan kepada refleksi diri. Mampukah ia menyatukan antara kata dengan perbuatan. Seperti yang dikatakan penyair WS Rendra…”Perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata…”.
Dalam bahasa Freirean, dikatakan bahwa ada tiga jenis kesadaran. Pertama, kesadaran magis, kesadaran naïf, kesadaran kritis. Kesadaran magis diartikan sebagai pemahaman yang mengartikan bahwa segala fakta-realita sebagai hal natural dan terjadi begitu saja. Sehingga ketika masuk ke dunia pendidikan, anak didik menerima begitu saja apa yang dikatakan pendidik secara dogmatis. Berikutnya, kesadaran naïf yang mengatakan bahwa fakta-realita disusun oleh manusia sehingga jika system melakukan perubahan beroperasi maka manusia dituntut untuk beradaptasi.
Terakhir, adalah kesadaran kritis dimana system dianggap mempunyai pengaruh dominant bagi penciptaan formasi masyarakat termasuk relasi social. Dengan demikian, tugas pendidikan adalah memproduksi anak didik yang mampu mengkritisi system tersebut dan melakukan “pembalikan” jika terjadi ketimpangan hingga karakterisitik pembebasan sangat kental dalam kesadaran ini.
Disfungsi Pendidikan
Meskipun beberapa waktu yang lalu pemerintah sepakat untuk menambah anggaran pendidikan sebesar 20 %, apakah mampu menutupi kecacatan pendidikan Indonesia ??? Disaat hubungan antara anak didik dan pendidik tak ubahnya mandor dan kuli ??? Mungkin anggaran tersebut bisa untuk dialokasikan untuk peningkatan fasilitas, pemanfaatan sarana dan prasarana, perbaikan standar hidup pendidik misalnya. Namun apakah hal tersebut bisa menjamin terciptanya kesadaran si anak didik.Saat proses belajar mereka dihukum dalam angka yang tertera dalam lembar nilai masing-masing bahkan kemampuan mereka dihargai dalam waktu tiga hari sampai seminggu dalam “Judgement Day” ???
Jadi, apa bedanya pendidikan dengan pabrik manusia yang menghasilkan sejumlah produk untuk dilepaskan ke pasar dan pada akhirnya pasar menjadi penentu akhir produk tersebut, dapat digunakan oleh konsumen tidak, atau dengan kata lain mengalami pembendaan. Padahal katanya manusia ???. Konsep pendidikan sudah direduksi sedemikian rupa, sehingga normal saja jika hampir semua anak didik (baca:mahasiswa) memilih cari pekerjaan pasca-lulus sebagai pilihan rasional. Situasi seperti inilah yang membuat pendidikan kehilangan jati dirinya sebagai proses untuk memanusiakan manusia bukan membendakan manusia.
Metode Dialogis
Tentunya Anda pernah merasakan duduk di ruang kelas sambil mendengarkan berlama-lama pendidik cerita cas…cis…cus tentang materi sementara Anda terdiam tanpa sekalipun sempat atau bahkan tidak berani untuk sekedar ngomong berpendapat di hadapan pendidik. Tak heran, jika ada yang mengibaratkan bahwa kepala Anda seperti dijejali kata-kata pendidik tanpa ada kemungkinan untuk mengembangkan pemikiran sendiri. Padahal, apa sie sulitnya untuk berdialog dengan pendidik terlepas apapun alasannya ??? Namun disatu sisi, terkadang pendidik tidak memberi tempat bagi anak didik untuk berkreasi sesuai keinginan mereka masing-masing. Dengan demikian, sebuah bangunan yang bernama “pembisuan” turut ditopang oleh perilaku tersebut. Kerapkali bangunan tersebut tumbuh dengan sejumlah mitos yang melekat pada si anak didik dan pendidik antara lain; Pendidik (serba tahu, lebih mengerti, berpengalaman, selalu benar,banyak bicara, mengatur, subyek) dan anak didik (tidak tahu, tidak mengerti, selalu salah, bodoh, diatur,obyek).
Disinilah, metode dialogis menawarkan bahwa proses ini bertujuan terciptanya relasi anak didik dan pendidik tak ubahnya seperti partner/teman untuk memecahkan masalah sehingga batas antara keduanya mampu menghilang dengan sendirinya. Dialogis sendiri berarti aktivitas yang menuntut adanya timbal balik bagi pendengar dan pembicara supaya kesepakatan bersama bisa dihasilkan. Dengan demikian, bangunan “pembisuan” sedikit banyak bisa diruntuhkan. Disamping itu, dialogis mampu memecah kebuntuan antara teori dan praktek sehingga mampu berkecimpung dan menyatu dengan realitas yang ada di luar.

(Kemerdekaan) yang tak ada

September 5th, 2007 by haryo-institute

Yang ada hanyalah bualan ibarat memanaskan air tapi kelewat lama dan pada akhirnya menjadi uap menyatu dengan udara. Tanpa menyadari bahwa panasnya air juga bisa membuat kopi. Begitulah, dengan kemerdekaan yang sebatas pada mulut tak pernah turun ke hati, apalagi turun bertindak. Orang bijak pernah berkata bahwa pekerjaan para filsuf hanya memikirkan dunia yang terpenting adalah mengubahnya.
Tema yang mencuat pada bulan ke 8 dari 12 bulan yang disediakan kalender, adalah seputar kemerdekaan yang banyak tersimbolisasi dalam upacara bendera , menghapal Pancasila, mempersetankan gerakan separatis, khidmat kepada lagu kebangsaan namun mengimpor budaya asing untuk berjelajah di setiap jengkal dari tubuh ini sampai tiap milli dari saraf otak.
Mengingat kembali
Ada yang bilang jika orang amnesia ia mengalami kelupaan terhadap apa yang sudah terjadi dalam dirinya. Peng-amnesia-an Indonesia menyebabkan berjuta kepala di Nusantara sedang menjalani proses yang bukan menjadi dirinya sendiri atau dalam bahasa keren menghilangnya identitas nasional ditengah kepungan para Goliath bernama westernisasi yang memang bertopeng globalisasi dan modernitas.
Melupakan sesuatu yang ada di sekitarnya memang lebih gampang ketimbang melupakan kenyataan semu yang justru ada di sekitarnya dan mengAda untuk menJadikan yang semu kelihatan nyata. Misalkan,uang yang didaulat Wolfgang Goethe, seorang penyair sebagai dewa dunia. Coba kita lihat bagaimana kiprah sang dewa dalam kehidupan manusia yang mana membuat manusia merelakan nyawanya sendiri demi kata uang.
Pun demikian dengan kemerdekaan Indonesia yang terpenjara dalam lembaran-lembaran uang entah apapun merknya. Tak terhitung berapa anak bangsa yang tergiur membandroli tanahnya sendiri. Tak jarang pula yang rela membunuh sesama manusia demi mendapatkan lembaran dewa tersebut. Rasanya percuma saja membacakan teks Proklamasi 17 Agustus 62 tahun yang lalu, bergerilya di bawah desingan peluru penjajah, atau meneriakkan 1001 sekali kata merdeka jika mental budak masih melekat dalam diri.
Melihat ke depan
Cakra dari zaman inipun terus bergerak. Perubahan demi perubahan telah terjadi di sana-sini dari yang menuju kearah kemajuan bahkan kemunduran. Masihkah Nusantara seperti ini? Yang doyan memelihara budakisme dalam dirinya. Hanya manggut-manggut dihadapan congkaknya kuasa-uang. Tak mampu mempertahankan libido kanibalnya ketika dihadapkan pada pilihan uang atau merdeka. Sebab selama ini kata kemerdekaan hanya terdapat pada teks dan menguap di langit bukan di kenyataan.

Meng(aku) Indonesia

August 22nd, 2007 by haryo-institute

Peng“ada”an Indonesia bukanlah hal yang secara absolute bisa dilakukan dengan kedipan mata. Perjalanan panjang yang diadakan belum tentu mengada apalagi menjadi. Pengadaan Indonesia dalam setiap jengkal sukma manusia yang berada di Nusantara masih sarat dengan ketiadaan.

Mengikat perbedaan
Ketika taman Indonesia dilahirkan tak banyak mengira kenapa bunga yang berbeda-beda ini dapat diikat, meskipun carut-marut disana-sini namun Abrakadabra…antara yang satu dengan yang lain tetap terjaga selama 62 tahun sejak peristiwa monumental itu tanggal 17 Agustus. Kata orang jika angka 17 adalah angka istimewa dalam kehidupan ini. Dalam perayaan ulang tahun, hampir semua orang tersenyum lebar ketika menginjak umur 17, batu loncatan menuju kedewasaan katanya…ato kalau dalam bahasa masa kini sweet seventeen. Sementara itu bagi umat Islam, tanggal 17 Ramadhan didaulat sebagai hari turunnya Al Qur’an yang menjadi kitab suci bagi umat yang jumlahnya mayoritas di Indonesia ini.
Mungkin saja dipilihnya tanggal 17 sebagai moment kemerdekaan sangat erat hubungannya dengan keinginan para founding fathers untuk melihat senyuman gembira para rakyatnya seperti para ABG yang baru sweet seventeen-an. Atau malah sebagai harapan akan makna angka 17 bagi para ABG sebagai gerbang menuju kedewasaan. Maklumlah Negara kita ini, pada zaman penjajahan dulu layaknya anak bodoh yang mau nyemplung sumur asalkan dikasih kembang gula.
Alkisah, dalam salah satu lagu dikisahkan tentang negeri yang kaya raya bernama Indonesia. Sampai-sampai, mantan Presiden Amerika Serikat Richard M. Nixon pernah menjuluki tanah kita sebagai “Upeti terbesar dari Asia Tenggara”. Amboi, terpesona sekali diri ini dan betapa irinya Negara lain mendengar. Tak heran, tanah yang kita tempati ini bagaikan magnet raksasa yang menarik kedatangan orang dari dunia lain apapun motifnya. Dan, tak sedikit isi dari tanah ini mengalir sampai jauh seperti lagunya Pak Gesang dalam Bengawan Solo tapi entah kemana untuk para penghuninya yang badannya sudah mirip lidi bernyawa. Hal ini tak terjadi disini saja, ada di Afrika, ada di Amerika Latin, ada di tetangga yang tergabung dalam cap Negara-negara pinggiran persis lagu Iwan Fals orang pinggiran tinggal copy + paste + edit.
Memang mengherankan proses meng Ada dan men Jadi untuk Indonesia seperti gampang-gampang susah. Yang mengaku sebagai wakil rakyat mendadak terkena gejala hilang ingatan ketika duduk di kursi panas. Yang mengaku sebagai pengusaha kalap meningkatkan jargon ekonominya “ keuntungan sebesarnya-pengorbanan sekecilnya”. Ditambah buku pedoman dari sang MahaGuru lembaga internasional yang meramalkan TINA (there is no a alternative) .Yang mengaku sebagai rakyat biasa terus teriak minta kemiskinan segera dihentikan. Huhhh…semuanya saling menekan saya takut negeri ini bakalan gepeng ditekan sana-sini.

Hari ini
Tak terasa, gerak angka di kalender mendudukkan umur negeri ini di angka 62. Kemudian, dunia baru sedang dimulai bukan masyarakat komunis ala Mbah Jenggot Marx atau masyarakat adil dan makmur yang sering tertera di UUD 45. Tapi runtuhnya pagar pembatas Negara-bangsa akibat tabrakan dengan tsunami modernisasi. Tak pelak lagi, ke-Indonesia-an dipenuhi tanda tanya masihkah kita memerlukan merah putih dalam lambaian uang dollar, masihkah kita memerlukan lagu Indonesia Raya di tengah alunan MTV, atau coba ke urusan perut sedikit…antara pecel mbok Prapti versus Mc Donald, dan satu lagi kopi cete mas Minti versus Starbucks Coffe. dsb…dsb…dsb…
Peng-Indonesia-an aku mengalami banyak sekali batu terjal sana-sini. Malah membingungkan karena sampai sekarang saya masih meraba-raba mana yang Indonesia dan mana yang asing. Bukannya xenophobia sih…tapi kadang-kadang saya teringat dengan kata-kata sekelompok mahasiswa dari Frankfurt yang menyatakan bahwa segala sesuatu tak ada yang bebas nilai selalu diselubungi dengan kepentingan apapun itu namanya. Benar saja, ribuan, jutaan orang seperti menjalani pembiusan massal menuju kepada apa yang dinamakan Westernisasi.
Ketika saya tengah berjalan di sebuah sudut kota, mata dimanjakan dengan pemandangan berupa poster wanita berkulit putih,mancung, tinggi semampai, blonde, sexy lagi. Namun entah kenapa bukan saya aja yang berpikiran seperti itu, hampir setiap kepala yang ada di Nusantara ini.Yang pada buntutnya mengalahkan segala hal yang berbau ketimuran dengan modernitas dan kebaratan .Hal ini bahasa kerennya konformitas, atau dalam omongan Gramscian disebut hegemoni. Ketika dominasi sudah sedemikian rupa hebatnya, maka “yang lain”, berbeda dianggap kuman yang harus dibasmi. Kita pun seakan-akan menerima begitu saja adanya dominasi tersebut.
Segala hal yang ada dalam diri kini diserahkan pada tolok ukur yang bukan ke-Indonesia-an, meskipun kita sendiri rela kehilangan identitas nasional kita. Meng(aku) Indonesia dan meng(Indonesia)kan aku adalah suatu teknik perlawanan terhadap budaya dominan. Menciptakan kemungkinan diantara ruang ketidakmungkinan kata Homicide. MenJADi, mengADA, dan mengAKU Indonesia di tengah desa dunia, dibawah arus westernisasi. Karena Indonesia diADAkan oleh aku. Aku disini bukan “aku” sendiri saj tapi “aku-aku” yang lain juga. Jika Jean Paul Sartre mengatakan “Manusia mengADA untuk dirinya sendiri”, maka saya mengatakan bahwa aku mengADA untuk Indonesia.

Merdeka !!!

problem gerak

August 21st, 2007 by haryo-institute

Gerak adalah suatu eksistensi dari adanya materi atau suatu pernyataan dari adanya materi. Itu berarti bahwa sesuatu yang gerak adalah selalu materi. Tidak ada gerak tanpa materi, atau tidak ada gerak yang bukan materi. Itu sama halnya bahwa tidak ada materi tanpa gerak. Segala sesuatu ide selalu gerak, berubah dan berkembang. Tidak ada sesuatu yang tetap, kecuali gerak itu sendiri. Artinya bahwa segala sesuatu itu tetap dalam keadaan gerak. Bahwa gerak itu tetap berlangsung terus selamanya terus selamanya bagi segala sesuatu. Gerak mempunyai dua bentuk yang utama, yaitu gerak mekanis dan gerak dialektis.

a.Gerak Mekanis
Gerak mekanis adalah gerak atau perubahan yang bersifat ulang mengulangi, yang tetap dalam lingkungannya yang lama, dan tidak akan menuju atau mencapai perubahan yang bersifat kwalitatif atau yang bersifat lebih tinggi dan lebih maju. Gerak mekanis adalah gerak yang bersifat kwantitatif, gerak yang begitu saja terus menerus, berulang-ulang, ulang-mengulangi seperti geraknya sebuah mesin.

b.Gerak Dialektis
Gerak dialektis adalah gerak atau perubahan yang bersifat meningkat, dari tingkatnya yang rendah menuju ketingkatnya yang tinggi sampai mencapai kwalitas baru.
Gerak atau perubahan dialektis dari tingkatnya yang rendah menuju ketingkatnya yang tinggi sampai mencapai kwaliteit baru, itu tampaknya juga seperti mengulangi dalam bentuknya pada tingkatnya yang rendah. Tapi bentuk yang baru itu sudah dalam keadaan kwalitet yang lebih tinggi. Jadi tidak mengulangi kembali seperti semula dalam bentuk pada tingkatnya yang lama. Arah gerak atau perubahan dialektis adalah seperti sipiral.

c.”Diam”
“Diam” itu juga merupakan satu bentuk gerak. Sifatnya sangat relatif atau sangat sementara sekali. Artinya, bentuk “diam” itu hanya bersifat sangat sementara karena didalam yang “diam” itu juga terdapat proses gerak dari kekuatan-kekuatan yang saling berkontradiksi dan saling mendorong yang ketika itu sedang bertemu pada satu titik.

dikutip dari berbagi sumber…thanx atas narasumber

negara dalam pandangan mbah jenggot

August 21st, 2007 by haryo-institute

secara konseptual Negara dibangun sebagai wadah untuk memfasilitasi berbagai kepentingan masyakat di dalamnya.Negara dapat dipandang sebagai asosiasi manusia yang hidup dan bekerja sama untuk mengejar beberapa tujuan bersama. Dapat dikatakan bahwa tujuan akhir setiap Negara ialah menciptakan kebahagiaan rakyatnya (Miriam Budiarjo, 1985) .Selain itu dalam perspektif Hegelian, Negara adalah interpretasi dari kehadiran Roh Absolut yang keberadaannya tidak dapat ditentang sebab merupakan keharusan sejarah dari sebuah perjalanan panjang sejarah perkembangan masyarakat.Kemudian, negara tak lain adalah medium yang mempertemukan kepentingan rakyat dan pemerintah. Berdasar perspektif ini berarti lahir sebuah aksioma, Negara mengemban tugas besar berupa harmonisasi hubungan antara rakyat dan pemerintah, bahkan mempersamakan geist rakyat dengan geist pemerintah.
Namun, kontradiksi yang mencolok ditunjukkan dari perspektif Marxian yang memandang Negara adalah “panitia” dari kelas borjuis atau wahana yang digunakan kelas penindas untuk menghisap kelas proletar.”Negara tak lain tak bukan hanyalah mesin yang dipakai satu kelas untuk menindas kelas lain”( Lenin, 1917) .Selain itu, sejarah terbentuknya Negara tak lepas dari sebuah pertentangan kelas yang ada di dalam masyarakat, maka untuk menetaslisir kontradiksi kelas dibuatlah Negara. Apalagi Negara memiliki sifat memaksa kepada masyarakatnya sendiri dengan legitimasi hokum, kebijakan, militer, dsb. Hal ini kemudian disempurnakan oleh Louis Althusser yang mengemukakan bahwa Negara mempunyai fungsi ISA (ideology state aparatus), atau fungsi persuasive untuk mempengaruhi masyarakat lewat instrument pendidikan, budaya, pers, sementara RSA (repressive state apparatus) atau fungsi yang bersifat koersif dan represif melalui instrument militer dan hokum.
Selain fungsi represifnya dan fungsi yang bersifat ideology, Negara borjuis juga melancarkan jalannya ekonomi kapitalis, yaitu menjamin kondisi umum produksi kapitalis. Produksi kapitalis adalah produksi komoditas umum yang berdasarkan atas kepemilikan pribadi dan oleh karena itu berdasarkan kompetisi. Kondisi hokum yang stabil dan setara dibutuhkan kapitalis agar aktivitasnya berjalan normal (Ernest Mandel,2006)
Di lain pihak, perspektif Marxian pun masih memandang Negara hanya sebagai transisi menuju masyarakat komunis atau lebih dikenal kediktatoran proletar. “Diantara masyarakat kapitalis dan masyarakat komunis—terbentang sebuah periode transformasi revolusioner—dari suatu bentuk masyarakat, menuju bentuk masyarakat yang lain. Sehubungan dengan hal ini terdapat juga sebuah periode transisi (peralihan) politik. Dalam pada ini negara tidak lain daripada sebuah kediktatoran proletariat yang revolusioner.” ( Lenin, 1917). Dengan demikian, setelah masyarakat komunis terbentuk, Negara kehilangan perannya kemudian layu dan hilang dengan sendirinya karena masyarakat komunis mampu mengatur diri sendiri.

Tiada Selain Kematian by: Pablo Neruda

August 21st, 2007 by haryo-institute

Adalah kuburan yang kesepian,
makam yang penuh dengan tulang belulang yang tak berbunyi,
hati yang berjalan melalui sebuah terowongan,
seperti bangkai kapal kita akan mati memasuki diri kita sendiri,
seakan-akan kita tenggelam dalam hati masing-masing
seakan-akan kita hidup lepas dari kulit kedalam jiwa.

Dan adalah mayat-mayat,
kaki yang terbuat dari tanah liat yang dingin dan lengket,
kematian ada di dalam tulang-tulang,
seperti gonggongan dimana tiada anjing-anjing,
keluar dari bel entah di mana, dari makam entah di mana,
tumbuh di dalam udara lembab seperti tangisan hujan.

Terkadang aku melihat sendiri,
peti mayat yang sedang berangkat,
dimulai dengan kepucatan kematian, dengan wanita yang memiliki rambut mati,
dengan tukang-tukang roti yang seputih malaikat,
dan gadis-gadis muda yang termenung menikah dengan notaris publik,
peti mati melayari vertikal sungai kematian,
sungai berwarna ungu gelap,
menyusuri hulu dengan layar-layar yang berisikan suara-suara kematian,
berisikan suara kematian yang merupakan diam.
Kematian datang dengan semua suara itu
seperti sebuah sepatu tanpa kaki di dalamnya, seperti sebuah jas tanpa seorang laki laki di dalamnya,
datang dan mengetuk, menggunakan sebuah cincin tanpa batu di dalamnya, tanpa jari di dalamnya,
datang dan berteriak tanpa mulut, tanpa lidah, tanpa kerongkongan.
namun langkah-langkahnya bisa didengar
dan pakaiannya membuat suara keheningan, seperti sebuah pohon.

Aku tidak yakin, aku mengerti cuma sedikit, aku tidak bisa begitu melihat,
tetapi sepertinya untukku nyanyiannya memiliki warna kelembaban bunga violet,
dari bunga violet yang berada di rumah di dalam bumi,
karena wajah kematian adalah hijau,
dan muka yang diberikan kematian adalah hijau,
dengan penetrasi kelembaban dari sehelai bunga violet
dan warna muram dari musim dingin yang menyakitkan hati.

Tetapi kematian juga melewati dunia berbaju seperti sebuah sapu,
menyapu lantai, mencari tubuh-tubuh mati,
kematian ada di dalam sapu,
sapu adalah lidah dari kematian yang mencari mayat-mayat,
adalah jarum dari kematian yang mencari benang.

Kematian ada di dalam tempat tidur gantung yang terlipat,
yang menghabiskan hidupnya tidur di atas matras-matras lambat,
di dalam selimut-selimut hitam, dan tiba-tiba melepaskan nafas:
meniupkan suara ratapan yang membengkakkan seprai,
dan tempat-tempat tidur pergi berlayar menuju pelabuhan
dimana kematian sudah menunggu, berpakaian seperti seorang laksmana.