Sekolah dan Kuliah…bab I
January 22nd, 2009 by haryo-instituteSingkat kata singkat cerita, dalam obrolan yang mengambil tepat di sudut warung kopi. Ada seorang kawan yang menyanyikan lagu plesetan dari “Naik-naik ke puncak gunung”…begini lagunya…”Naik-naik, SPP naik…tinggi-tinggi sekali, kiri-kanan…kulihat saja banyak rakyat sengsara…hahaha”. Yap, memang begitulah lagu yang cukup menggambarkan keadaan yang menimpa semua institusi berlabelkan pendidikan. Pembicaraan malam itu sangat menarik, hampir semuanya menyalahkan pemerintah yang dianggap “lepas tangan dalam hal pembiayaan sektor pendidikan. “Coba, lihat negara Kuba dan Korea Utara meskipun dicap miskin. Disana sekolah gratis, gak kayak di Indonesia”, ujar salah seorang kawan yang kebetulan berbaju Che Guevara tersebut. “Benar sih, tapi mau gimana lagi. Sebab anggaran kita habis untuk ngebayarin hutang”, tambah kawan yang lain. “Mungkin dengan cara menaikan biaya SPP, fasilitas pendidikan terpenuhi, hingga kualitasnya bisa diperbaiki. “. “Lha, apakah kualitas diukur dari fasilitas serba wah, apalagi SPP yang naik.”…..Jleggggg…perdebatan itu menemui ekornya tatkala pernyataan tersebut dilontarkan.
Tidaklah mengherankan, jika seseorang menyandang status mahasiswa. Segenap rasa bangga akan memayungi dirinya, disaat memasuki gerbang kampus, mengikuti perkuliahan, sampai menyandang gelar yang paling diidamkannya. Bagaimana tidak ? ibarat sebuah permainan video game setelah melalui level dari Playgroup, TK, SD, SMP, SMA, (atau sederajat), kita akan menyusun Stairway to Heaven di level Perguruan Tinggi. Wooowww !!! level terakhir harus dilewati sebelum mencapai dunia kerja yang persis Heaven/Surga (katanya). Baik kembali ke Perguruan Tinggi, di level ini terlihat banyak perubahan, mulai dari pakaian yang mayoritas dibebaskan, sampai tata cara belajar yang konon dibebaskan pula. Dan kita merasakan iklim yang sekali lagi konon katanya dibebaskan. Tapi coba, simak dulu salah satu testimonial dari kawanku yang menyatakan dunia kuliah tak ubahnya mesin dan berjalan lurus-lurus saja. “Saya menghabiskan 7 semester, atau dalam hitungan kasar setara dengan 42 bulan, 84 minggu, 1260 hari, 30240 jam, 1814400 menit, 108864000 detik untuk menjalani kehidupan kuliah di salah satu fakultas. Disanapun, kita akan mudah tebak seperti apa kegiatannya mulai dari duduk manis di depan radio bernama dosen, mengerjakan tugas dengan baik dan benar. Sambil menanti kata-kata yang paling buat sejuk hati ini “Ok, kita lanjutkan minggu depan, perkuliahan hari ini diakhiri”. Dan datanglah saat yang mendebarkan, saat melihat nilai yang tertera di KHS (Kartu Hasil Studi) apalagi suatu hari nanti mengimajinasikan akan datangnya embel-embel gelar di belakang namanya. Sebelum nantinya akan memasuki Next Battle bernama Dunia Kerja. Alamak…perjalanan yang cukup melelahkan y ??? Kalo saya pinjam, kata-kata dari Paulo Freire pendidikan masa kini tak jauh beda dengan ritualisasi yang sifatnya hanya berkutat dengan simbol-simbol belaka sehingga kehilangan makna sebenarnya. Benarkah sampai segitunya ???
Bandingkan dengan waktu sekolah dulu, pada hakikatnya hampir sama sie. Mungkin pembedaannya pada kurikulum yang lebih ketat, jadwal terstruktur dengan rapih, ataupun kalau dalam bahasa kerennya waktu sekolah masih dididik ala anak-anak sementara kalau kuliah sudah dewasa dong…!? Saat menempuh sekolah, aturan yang diterapkan juga ketat…”Tak boleh ini itu dan masih banyak lagi…lha, waktu kuliah sudah bebas dong…” Mungkin itu pembedaannya. Dan alkisah, sekolah berasal dari bahasa Yunani yang artinya waktu luang. Jadi pada zaman dahulu kala, orang-orang Yunani mmaknai sekolah adalah sebuah sarana untuk mengisi waktu luang (bedakan dengan rutinitas) dengan cara berdialog, share, ataupun ngobrol-ngobrol santai yang bertemakan apa saja mulai dari hal yang remeh temeh sampai berbicara hakikat kehidupan. Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak pemikir sekaliber Socrates, Aristoteles, Plato dan masih banyak lagi. Rasanya masuk akal jika pemikir tersebut dapat lahir dan Yunani tak pernah kehabisan stok,,,
Nah, kita kembali meloncat ke 2008. Dunia pendidikan kita (entahlah apa itu penyebutannya kuliah atau sekolah) seolah-olah mengalami penyeragaman. Apalagi setelah UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) disahkan dan berlaku dari TK sampai Perguruan Tinggi. Yang baru kelihatan adalah kenaikan SPP, pembangunan gedung-gedung fisik demi peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan. Belum lagi, dengan suasana di dalam kelas. Baik saya ajukan semacam gambaran aja, kira-kira pemikir semacam Socrates, Aristoteles, Plato, dsb bisa lahir ga dalam suasana pendidikan yang mana ditandai dengan betapa patuhnya peserta didik kepada pendidik, dan menganggap pendidik bagaikan dewa maha tahu, apalagi dikejar target untuk segera menyelesaikan studi akibat membayar SPP terlalu mahal atau bahkan tidak menikmati bangku sama sekali? Baiklah, kira-kira ada yang janggal ga saat pendidikan dinilai dari bercokolnya gedung-gedung fisik yang ber-AC, akreditasi yang mantap, lengkapnya fasilitas, dan gengsi yang berbunga-bunga menjadi lulusan terbaik dengan nilai sekian…..bersambung
-Haryo,,,manusia biasa yang mencoba lebih biasa lagi.